Selasa, 02 Oktober 2012


Manfaat Belajar dan Berpikir


Sebagai makhluk berpikir dengan pemikiran yang terus berkembang. Belajar membuat kegiatan berpikir berlangsung terus dan memungkinkan manusia dapat bergerak maju.
Cogito ergo sum (aku berpikir, maka aku ada), kata Renne Descartes, sang pencetus filsafat modern. Dan karena manusia berpikir, maka manusia mampu belajar. Betapa pentingnya kegiatan belajar dan berpikir ini sampai-sampai manusia melembagakannya dalam bentuk sekolah atau institusi pendidikan.
Belajar bukan Cuma dialami mereka yang duduk di bangku sekolah. Siapa saja butuh pembelajaran. Namun, seperti yang diakui banyak orang, kegiatan belajar tak selalu mulus dilaksanakan. Selalu saja ada halangan dan godaan yang menghalangi kita untuk belajar dengan sungguh-sungguh.
Mood atau suasana hati menjadi faktor terpenting saat kita belajar. Upayakan selalumood yang positif untuk belajar, misalnya saja dengan menentukan waktu, lingkungan dan sikap belajar yang sesuai karakter kita. Mulailah menentukan sendiri prioritas nilai dan prinsip kita. Jangan biarkan siapa pun mendikte kita dalam belajar. Pusatkan perhatian terhadap apa yang telah kita percayai tersebut dan kerjakan dulu prioritas-prioritas yang telah kita tentukan sendiri.
Memahami orang lain dengan baik akan membuat orang lain dapat memahami kita. Cobalah mengandalkan diri kita dalam posisi orang lain yang kita ajak berargumen/berdiskusi. Pikirkan argumen yang paling pas untuk teman diskusi kita.
Kerapkali kita kurang menangkap sebuah pelajaran, terutama dari sebuah bahan bacaan/buku. Apabila tidak mengerti bahan yang diajarkan pada hari ini, kita dapat mencari cara lainnya selain membaca ulang bahan tersebut. Misalnya, diskusikan bahan tersebut dengan guru/dosen, teman sekantor, atau dengan siapa saja yang dianggap bisa diajak berbagi. Mereka mungkin memberi kita pemahaman yang lebih baik.
Jangan ragu menantang terus diri kita untuk memahami lebih banyak lagi masalah. Belajar akan menjadi kegiatan yang “membangkitkan adrenalin” dan terasa mengasyikan, bahkan bukan mustahil ide-ide cemerlang akan kita ciptakan.

Klakson Dan Kita


Mungkin banyak di antara kita yang pernah berkendara di belakang truk yang melaju pelan. Kita terburu-buru namun harus rela menunggu. Bagi yang terburu-buru, pasti mencari celah untuk melewati truk yang seolah terseok-seok kelebihan muatan. Meski tombol klakson kita tekan berkali-kali, si sopir truk tetap bergeming. Laju truk tetap merayap, tak peduli.
Kita makin dongkol sembari harus rela menarik bibir ke samping, tersenyum kecut, manakala di bak belakang truk tertulis kalimat:Ra sabar mabura (kalau tidak sabar terbanglah-red). Jadi meski klakson kita pencet keras-keras dan berlama-lama, hasilnya sama saja. Kita pun tidak berubah bisa terbang. Jadi, klakson tidak menyelesaikan masalah.
Klakson juga kita pencet dengan gembira saat berpapasan dengan kawan atau sahabat di jalan. Kalau perlu tangan kita ikut melambai. Artinya, itu klakson sapaan. Kalau tidak membunyikan klakson, mungkin kita akan dituduh sombong. Ada pula kawan yang punya kebiasaan aneh, suka memencet klakson tiga kali setiap melewati tempat tertentu yang dianggapnya keramat, atau ketika melintasi daerah permakaman.
”Ini uluk salam,” katanya.
”Kepada siapa?” tanya saya.
”Pokoknya begitu,” ujarnya.
Baiklah, itu namanya klakson mitos. Jadi, dimitoskan oleh orang-orang kurang kerjaan yang percaya takhayul bahwa memencet klakson diperlukan saat kita melintasi wilayah tertentu.

Ponsel
Di antara kawan-kawan pengendara motor juga punya kebiasaan memencet bel klakson ditambah salam jari tertentu. Artinya: Hati-hati Bro, di depan sana ada mokmen. Jadi bagi mereka yang tidak siap berhadapan dengan razia, segera berbelok di tikungan pertama. Ini namanya klakson solidaritas menghadapi petugas.
Beberapa kawan dari Medan atau Makassar, katanya, punya kebiasaan ramai-ramai membunyikan klakson saat terjadi kemacetan. Klakson berbunyi bersahut-sahutan, seperti parade. Katanya, itu seperti pelampiasan dari kepenatan kerja. Atau seperti upaya melarikan diri dari ketertekanan hidup karena hajaran kerja atau impitan jiwa atau semacam itu. Jadi klakson seperti terapi, meski tetap tidak berguna mengurai kemacetan.
Tetapi ada juga orang yang sengaja mematikan klakson kendaraannya. Kenapa? Agar kebiasaannya yang sedikit-sedikit mengklakson berhenti dengan sendirinya. Akhirnya jika terjadi kemacetan hanya bisa geleng-geleng kepala,  lama-lama menjadi maklum dan mungkin berubah menjadi lebih sabar.
Sebagian dari kita mungkin juga pernah menghadapi pengendara kurang ajar seperti ini, sibuk ngobrol melalui handphone atau ponsel saat sedang berkendara, sehingga tidak sadar laju kendaraannya melambat. Akibatnya kendaraan lain di belakangnya terganggu. Sungguh, ini contoh perilaku yang tidak sopan di jalan raya dan polisi lalu lintas perlu berburu orang-orang jenis ini untuk diberi pelajaran. Untuk menghadapi orang seperti ini, bunyi klakson mungkin bisa membuatnya menyadari kesalahan. Mungkin.
Tergesa-gesa
Sering pula kita menjumpai banyak pengendara langsung memencet tombol klakson saat lampu merah berganti hijau. Sebagian memberi tahu kepada pengendara di depannya bahwa lampu sudah menyala hijau, artinya semua kendaraan boleh lewat. Namun sebagian seperti ungkapan ketidaksabaran, ketergesa-gesaan. Maaf, yang terakhir ini sebenarnya tidak terlalu berguna dan tidak sopan.
Malah ada juga di antara kita yang memencet klakson saat ada orang menyeberang jalan, yang menunjukkan kita tidak sabar melihat pengguna jalan lain mengambil haknya.
Lebih mengherankan lagi, sering pula orang membunyikan klakson saat ada mobil atau motor mogok di tengah jalan. Sebagian mungkin memencet sekali dan pelan, namun tidak sedikit yang memencet keras-keras dan lama, bahkan dari mulutnya juga keluar ”klakson”. Itu seperti kita melihat kawan kita tiba-tiba kakinya sakit dan kita memintanya segera berdiri dan berlari, karena kita mau lewat. Orang seperti ini bukan lagi tidak sabaran, tetapi juga orang yang tidak punya belas kasihan.
Di banyak kota di negara lain, seperti Kuala Lumpur, Tokyo atau negara-negara Eropa dan negara maju lainnya, memencet klakson termasuk persoalan sensitif. Kebanyakan hanya dibunyikan jika kita tidak suka dengan cara nyetir orang di depan kita. Sangat jarang terjadi orang mengklakson pengguna jalan lain karena alasan tidak sabar atau tergesa-gesa. Sepertinya, membunyikan klakson itu bagian dari keteraturan masyarakat. Semakin teratur suatu masyarakat, semakin jarang kita dengar klakson dibunyikan.
Bagi mereka yang nekat mengemudi saat mabuk atau sakaw karena minuman keras atau narkoba, klakson sudah pasti akan terlupakan. Orang tentu belum lupa, bagaimana Apriani Susanti supir Xenia yang menerobos jalur pejalan kaki di Tugu Tani, Jakarta Pusat, Minggu (22/1) silam. Ulah Apriani membuat sembilan nyawa melayang. Jangankan mengklakson, gadis ini bahkan lupa mengerem. Kalau dia sempat menggeber klakson keras-keras, bisa jadi ceritanya akan lain. Apalagi kalau dia tidak sakaw, situasinya tentu berbeda.
Petugas Dinas Perhubungan Kota Solo, selalu menutup laporan lalu lintas di SOLOPOS FM dengan ungkapan yang lama-lama terbilang klise: Tertib berlalu lintas, cermin budaya wong Solo.
Tapi kawan, rasanya ada baiknya slogan itu kita camkan dan taati. Mulai dari hal kecil, seperti memencet klakson di kendaraan kita pada saat yang benar-benar diperlukan, atau menyalakan lampu sign saat hendak berbelok dan lain-lain. Biarlah kita sedikit bersabar, dan orang lain nyaman berkendara di sekitar kita.

Mencari Jawa Di Pakaian Dan Birokrasi


Pakaian turut membentuk kesejarahan identitas, iman, politik, intelektualitas, birokrasi. Sejarah itu bergerak dengan adonan keselarasan, kejanggalan, kesemuan, kekakuan, keluwesan. Pakaian di tubuh mengartikan orang ”mengenakan” kejatidirian mengacu status sosial, simbol profesi, ekspresi agama, rujukan ideologis.
Diri dan pakaian ada dalam pembingkaian material, representasi, imaji. Pakaian mirip hamparan semiotik untuk mengucapkan kejatidirian pemakai melalui prosedur resepsi tafsiran. Kesejarahan pakaian pernah menguak resistensi atas diskriminasi kolonial dan realisasi politik identitas pribumi.
Sarekat Islam (1912) sebagai gerakan politik massa modern melakukan agenda pengucapan identitas melalui pakaian. Pengucapan ini ditunggangi misi ”mengejek” laku birokrasi kolonial feodal dan seruan egalitarianisme. Pakaian adalah propraganda. Korver dalamSarekat Islam: Gerakan Ratu Adil (1985) menjelaskan bahwa mengenakan pakaian Eropa bagi kalangan Sarekat Islam menjadi tindakan politis: menentang tata cara penghormatan Eropa.

Birokrasi di Jawa awal abad XX memang masih memakai praktik penghormatan dengan cara jongkok, merangkak, duduk di tanah. Semua posisi tubuh ini disahkan pengenaan model pakaian tradisional (Jawa). Sarekat Islam (SI) menganjurkan agar pribumi mau mengenakan pakaian Eropa sebagai lambang sikap hidup modern dan rasional.
Model celana panjang, baju, sepatu dan peci bakal mengondisikan tubuh untuk pantas berdiri atau duduk di kursi dalam relasi kerja di birokrasi. Pakaian bisa meruntuhkan hierarki status birokrasi dan ”melumerkan” diskriminasi identitas. Propaganda ala SI ini kesengajaan demi menuai efek politik-kultural di Jawa.
Seruan masif dilancarkan SI melalui edisi Sinar Djawa (1914). Ada pesan politis dan satire bahwa mengenakan pakaian Eropa dimaksudkan agar ”para bupati jadi mati ketakutan.” SI di Surabaya malah mengedarkan aturan keras bahwa kalangan SI saat melakukan pertemuan atau rapat di gedung modern dilarang duduk di bawah. Mereka dianjurkan duduk di kursi. Mereka pun diharuskan memakai celana panjang, sepatu, peci.
Pelanggaran atas anjuran dan keharusan itu bakal diganjar denda atau sanksi (etik). Propaganda pakaian ala SI menimbulkan kontroversi dan konflik antara para penguasa kolonial atau lokal dengan kalangan rakyat. Konflik ini justru mengartikan progresivitas politik SI untuk menggerakkan rakyat menampik dominasi kolonialisme feodalisme.
Modernisasi pakaian untuk melawan penghormatan birokrasi itu merupakan jejak prestisius dari ikhtiar pendefinisian pejabat, kerja, kelas sosial. Kesejarahan ini bisa jadi refleksi atas kebijakan pakaian di kalangan birokrasi di masa Orde Lama dan Orde Baru. Pakaian adalah definisi mengandung imaji jabatan, gaji, harga diri.
Negara memberi imperatif pakaian demi mengolah misi ideologis berkaitan revolusi, kepribadian, nasionalisme, pancasilais. Imperatif ini menghendaki kepatuhan dan ”proteksi” kuasa politik di mata rakyat. Pakaian dihadirkan untuk mencipta ketertiban dan kontrol.
Agenda ini ada di seberang pamrih SI saat mempropagandakan pakaian modern (Eropa) sebagai resistensi birokrasi. Rezim Orde Lama dan Orde Baru justru mengumbar legitimasi birokrasi melalui pakaian. Rakyat saat memandang pakaian kalangan birokrasi lekas mendapati ”sihir” untuk melakukan penghormatan atas nama ”ketakutan”, ”kerikuhan,” ”kepatuhan”. Rakyat seolah kalah saat silau imaji pakaian birokrasi.
Cipto Mangunkusumo justru meruntuhkan arogansi elitisme profesi di mata rakyat. Cipto Mangunkusumo saat membuka praktik pengobatan di Solo (1910-an) juga mengidentifikasi identitas diri dengan pakaian ala Jawa. Cipto menolak mengenakan pakaian dokter Jawa resmi versi pemerintah kolonial. Cipto memilih mengenakan lurik dan blangkon. Penampilan ini tipikal Jawa kerakyatan.
Jenis pakaian menentukan martabat tanpa harus meninggikan diri secara artifisial dan angkuh. Pakaian telah mengartikan Cipto Mangunkusumo sebagai orang Jawa. Pakaian sebagai adab material-simbolik menggenapi kejawaan Cipto dalam menerapkan tanda tangan beraksara Jawa sebagai ”pakaian” batiniah (M Balfas, Dr Tjipto Mangunkusumo: Demokrat Sedjati, 1952).
Antologi Makna
Pakaian memang mengandung antologi makna di zaman bergerak. Kemunculan elite terpelajar, kaum pergerakan, birokrasi modern telah menggerakkan makna pakaian. Birokrasi memang membedakan diri dengan pakaian tapi ”berlumuran” pesan-pesan politis ala kolonial. Kondisi ini adalah konsekuensi modernisasi di Jawa. Pakaian di kalangan birokrasi mengejawantahkan ketertiban dan kontrol.
Ideologisasi pakaian pun menguak afirmasi dan negasi kaum pribumi atas agenda pembaratan alias kemadjoean. Jejak-jejak lama itu terus dilanjutkan oleh rezim-rezim kekuasaan dengan berbagai pamrih. Pakaian lekas eksplisit mengumbar pesan politik ketimbang merepresentasikan geliat identitas kultural. Semua itu memusat dalam dramaturgi birokrasi melalui pakaian-pakaian seragam.
Kebijakan Pemerintah Kota Solo agar kalangan pegawai mengenakan pakaian ala Jawa setiap hari Kamis seolah mengesankan ada misi identitas-kultural. Kejawaan ingin diwartakan dengan pakaian kendati cenderung meladeni ”tatapan mata” ketimbang “tatapan batiniah”. Kejawaan di pakaian secara lahiriah belum tentu menjamin kejawaan batiniah atau kejatidirian.
Filosofi Jawa mungkin berceceran saat selebrasi kejawaan dengan pakaian sekadar bukti ketertiban dan kontrol atas nama politik. Pakaian sebagai representasi identitas, tata krama, adab bisa lekas bias saat kalangan birokrasi memilih mengartikan pakaian sekadar ”seragam” demi menuruti aturan.
Mentalitas birokrasi dalam memaknai pakaian itu mirip lelakon seragam ala Orde Baru. Sekimoto (2005) dalam kajian atas relasi pakaian seragam dan eksistensi Orde Baru membuktikan bahwa mengenakan seragam merupakan cara atau tindakan alat negara (birokrasi) untuk membedakan diri dari massa (rakyat). Pakaian itu jadi pembuktian diri bahwa birokrasi memiliki peran di dalam cara berpikir negara dan bangsa.
Pakaian seragam cenderung mengartikulasikan pamrih negara. Memori pakaian ala Orde Baru masih bersambung saat publik melihat kalangan birokrasi rajin berganti pakaian setiap hari tapi tak sanggup mengejawantahkan misi pengabdian untuk rakyat.
Kebijakan mengenakan pakaian Jawa di lingkungan pemerintahan di Solo (2012) mungkin pantas jadi pembuktian makna pakaian di tegangan politik dan identitas kultural. Pilihan ini mengingatkan publik dengan kebijakan Ismail selaku Gubernur Jawa Tengah (1980-an) saat menginstruksikan bagi kalangan birokrasi agar mengenakan kemeja lurik sebagai representasi (semu) kerakyatan.
Kebijakan itu sekejap tanpa mengalirkan pesan-pesan kultural. Pakaian memang rentan sebagai ungkapan politis ketimbang semaian kejawaaan. Pakaian justru kerap selesai di tatapan mata ketimbang ”undangan” tafsiran untuk mencari makna identitas-kultural Jawa. Begitu.

Senin, 01 Oktober 2012


Suasana Dermaga Feri Di Pulau Saparua & Nusalaut

kulur
Pelabuahn Feri Di Desa Kulur-Saparua Kab. Maluku Tengah
kulur2
Suasana Pelabuhan Pada Waktu Feri Mau Meninggalkan Dermaga, Terliahat Kosong Tidak ada seorangpun. hehehe
nalahiyah
Pemandangan Ketika feri mau Merapat Di Desa Nalahia Kec. Nusalaut Kab. Maluku Tengah

TUAL

tual_laut
ini adalah laut tual di gambar diambil di atas kapal ciremai
tual_jembatan_watdek
Jembatan Watdek

TETOAT-DIAN PULAU MALUKU TENGGARA

tetoat_dianpulau
ini adalah jembatan penyeberangan dari desa tetoat ke dian pulau kecil
pantai_tual_dian_pulau
suasan penyeberangan dari dian pulau kecil ke dian pulau besar

POKA GALALA (PENYEBERANGAN FERI) AMBON

poka4
ini adalah pemandangan penyeberangan feri poka galala ambon
poka21
pemandangan di ambil ketika dari poka menuju galala
poka31
suasana ketika feri mau merapat di poka
Pemandangan tanjung ketika air turun(dekat lorong perahu)di ambil dari feri galal pokapoka_galala1